Selasa, 02 Juli 2013

MESIN GERINDA POTONG


MESIN GERINDA POTONG


1.      Pengertian mesin gerinda Potong
Mesin Gerinda Potong yaitu mesin pemotong benda dengan menggunakan pisau potong beupa batu gerinda yang tipis yang fungsinya untuk memotong benda kerja yang terbuat dari besi.
Prinsip kerja mesin ini hampir sama dengan mesin gerinda secara umumnya yaitu pisau potong ( Batu gerinda) berputar memotong benda kerja yang diam, dijepit dengan bantuan pencekam guna agar ketika melakukan pemotongan, benda kerja tidak mudah beergerak sehingga hasil potongan skan sesuai dengan yang didinginkan sesuai sudutnya.
2.      Bagian –bagian mesin Gerinda 





       a.       Handel pengangkat
b.      Tutup Pisau Potong (dinamis)
c.       Tutup pisau potong ( statis)
d.      Pisau potong(Batu gerinda)
e.       Skala pengukur sudut potong
f.       Plat pelindung percikan
g.      Dudukan
h.      Stang pengunci
i.        Pengunci ulir
j.        Lengan ulir pencekam
k.      Tombol on off
l.        Pengunci pisau potong
m.    Motor
n.      Pengunci handel saat diangkat
o.      Pembatas kedalaman potong
p.      Kabel power
q.      Karet dudukan

3.      Perawatan mesin Gerinda
                Secara umum dalam melakukan perawatan mesin gerinda potong bisa dilakukan dengan membersihkan semua bagian-bagiannya setelah pemakaian, selainitu dalam pemakaiannya tidak terlalu berlebihan. Apabila mesin dioperasikan melalui batas kemampuannya ( Panas yang berlebih) maka umur mesin pun juga akan berkurang. Untuk itu perlu adanya perawatan terhadap mesin gerinda potong.
                Secara spesifik dalam perawatan bagian-bagian mesin gerinda potong yang memerlukan perawatan lebih diantaranya sebagai berikut:
a.       lengan ulir pencekam dan stang pengunci
o   Membersihkan beram-beram yang menempel pada ulir
o   Memberikan minyak pelumas pada ulir
b.         Motor ( dinamo)
o   Melakukan penyepulan
o   Pastikan penggunaan listrik benar-benar tepat

nasehat




Jadilah Seperti Pohon yang Berbuah

Assalamu'alaikum...
tausyiah untuk kita semua...
Bismillah…


“Jadilah seperti pohon (yang berbuah), orang-orang melemparinya dengan batu, lalu ia membalasnya dengan melemparkan buah-buahnya.”, demikian nasihat imam Hasan al-Banna di depan banyak jamaahnya.

Ya, kita adalah makhluk sosial, dan berinteraksi dengan manusia lain itu menjadi sebuah sunatullah untuk kita. Dengan berinteraksi itulah kita menjalani hidup kita. Mustahil bagi kita hidup seorang diri. Pasti kita membutuhkan orang lain. Dan caranya adalah tentu dengan berinteraksi tadi.


Dari interaksi, tentu akan ada gesekan-gesekan. Gesekan-gesekan inilah yang harus kita sikapi dengan baik. Ibarat pohon berbuah yang dilempari batu tadi, tentu diantara gesekan itu pun ada yang membuat hati kita luka.


Namun bagaimana kita menyikapinya?



Kita hidup di masyarakat, Di lingkungan rumah, sekolah, kampus, masjid, dan banyak tempat lagi. Permasalahannya sekarang, sejauh apa kontribusi kita kepada lingkungan kita? Tentu termasuk juga dalam hal bagaimana menyikapi masalah yang ada?
Lihatlah pohon tadi. apapun yang dia hadapi dia lalu tetap berusaha memberi manfaat kepada ummat. Meskipun ia diuji dengan lemparan batu orang-orang yang kemudian menyakitinya, tapi ia tetap membalas dengan kebaikan, ia melemparkan buahnya yang kemudian menjadi manfaat untuk orang-orang yang mengambilnya, bahkan untuk si pelempar batu yang tadi menyakitinya juga.

Bagaimana dengan kita?



Jika kita hayati sabda Nabi saw. bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, tidakkah kita menjadi termotivasi?


[Diriwayatkan dari Jabir berkata: ”Rasulullah saw. bersabda: Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
 (HR. Thabrani dan Daruquthni)]
Jika banyak orang-orang besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, dan banyak lagi Ulama cerdas yang mampu mengubah dunia dengan manfaat yang ia berikan, maka bagaimana dengan kita? Bahkan untuk mengubah lingkungan radius beberapa meter di sekitar kita saja kita seringkali kesulitan dan mengeluh tak sanggup.

Tentunya butuh ilmu yang sesuai dengan Al-Qur'an dan as-sunnah untuk bisa menjadi insan yang bermanfaat dan mampu menyelesaikan masalah dengan memberikan manfaat. So, yuk kita terus belajar untuk siap menjadi pengubah dunia dengan terus raih ilmu yang ada, dan juga dengan terus istiqomah di jalan dakwah.
Semua manfaat yang kita persembahkan untuk ummat tentu harus diniatkan karena Allah, supaya jadi ibadah, dan semoga kita bisa menjadi sebaik-baiknya manusia yang mampu memberi manfaat, aamiin.

Wallahua'lam